Hukum Aqiqah

Hukum aqiqah – hukum aqiqah bisa dilihat dari berbagai macam persefektif. Baik dari alqur’an, sunnnah, maupun pendapat-pendapat para ulama. Banyak alasan yang mengharuskan kita untuk memahami makna dan hukum dari aqiqah tersebut.

Persoalan-persoalan yang seringkali diperdebatkan banyak orang adalah mengenai wajib atau tidaknya beraqiqah, batasan umur anak yang harus di aqiqahi, serta proses dalam aqiqah tersebut.

AWAL MULA aqiqah

hukum aqiqah

Aqiqah merupakan semacam pesta sebagai bentuk syukur orang tua atas kelahiran putra/ putrinya. Sejak zaman jahiliyah ternyata pesta ini sudah ada dan dilakukan pada hari ke-7 kelahiran sang bayi.

Dahulu ketika zaman jahiliyah, apabila ada bayi yang dilahirkan maka disembelihlah kambing kemudian melumurkan darah kambing yang disembelih tersebut ke kepala bayi. Alasannya adalah mencegah bayi yang baru lahir tersebut dari gangguan.

Setelah islam datang, rosulullah memerintahkan untuk mengubah tata cara jahiliyah yang tanpa makna tersebut dengan aqiqah. Aqiqah berarti menyembelih kambing, mencukur rambut bayi dan memberinya nama.

Rosulullah bersabda, “anak yang dilahirkan itu diaqiqahi bukan dilumuri kepalanya dengan darah”. Pelaksanaan aqiqah yang dicontohkan oleh Nabi SAW tersebut selanjutnya diteruskan oleh para sahabat, tabiin, tabiit tabiin. dan kemudian juga oleh generasi selanjutnya hingga masa sekarang ini. Itulah sejarah aqiqah yang ada pada umat Islam dan masa pra Islam.

BATASAN USIA ANAK YANG DI aqiqah

Dalam masalah waktu pelaksanaannya, ulama berbeda pendapat. Ada yang mengharuskan hari ke-7 bersamaan dengan pemberian nama. Ada juga yang membolehkannya hingga masa nifas ibunya selesai. Namun ada juga yang melonggoggarkannya sampai si anak menjelang masuk usia balignya, bahkan ada juga yang membolehkannya sampai kapan pun sampai orang tua benar-benar mampu.

Secara umum, jumhur ulama berpendapat bahwa waktu di-sunnahkannya penyembelihan hewan aqiqah pada hari ke-7. Akan tetapi mereka berberda pendapat tentang hari kebolehan diluar sunnah. Namun, Syafiiyah dan Hanabilah membolehkan pelaksanaan aqiqah tepat setelah bayi dilahirkan dan tidak harus menunggu sampai hari ke-7. Tapi mereka tidak membolehkan sebelum bayi dilahirkan.

Maka, jika penyembelihan dilakukan sebelum kelahiran bayi, dianggap sebagai sembelihan biasa dan bukan aqiqah. Hal ini didasari atas suatu sebab yaitu kelahiran. Maka jika bayi sudah terlahir aqiqah boleh dilaksanakan.

APA SAJA YANG DI SUNNAHKAN SAAT AQIQAH

a.Membaca basmalah.

b.Membaca sholawat atas Nabi.

c.Membaca takbir.

d.Membaca doa.

e.Disembelih sendiri oleh ayah dari anak yang diaqiqahkan.

f. Daging aqiqah dibagikan kepada fakir miskin, sanak famili dan
tetangga setelah dimasak terlebih dahulu.

g. Pada hari itu anak dicukur rambutnya dan diberi nama dan bersedekah seberat rambu bayi yang baru dicukur dengan nilai 1/2 atau 1 dirham.

APA SAJA YANG HARUS DIPERHATIKAN SAAT AQIQAH

1. Hal-hal yang perlu di lakukan kepada bayi saat di aqiqah :

a. Mencukur rambutnaya setelah menyembelih hewan qurban untuk aqiqah.

b. Mengoleskan minyak wangi ke kepalanya.

c. Mengoleskan buah kurma/air gula pada bibir bayi.

d. Memberikan nama kepada sang bayi.

e. Menimbang berat rambut lalu membeli emas sesuai dengan berat rambut dan menginfaqkannya kepada fakir miskin.

2. Hal-hal yang harus di perhatikan dalam memilih hewan qurban untuk aqiqah :

a. Hewan berumur minimal 1 tahun atau lebih.

b. Berkeadaan sehat dan tidak terdapat kecacatan fisik.

c. Hewan yg dianjurkan : domba, kambing, sapi, onta.

3. Hal-hal yang harus di perhatikan saat menyembelih hewan qurban aqiqah

a. Penyembelih menghadap ke kiblat.

b. Membaca bismilah dan niat saat menyembelih, Niatnya ”Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.”

c. Memisahkan daging dari tulang tanpa harus merusak tulang/mematahkannya.

HUKUM AQIQAH

Aqiqah merupakan salah satu ajaran islam yang sunnah ditunaikan atas seorang anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Semua bayi tergadaikan dengan aqiqah-nya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama, dan dicukur rambutnya.” [Shahih, HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lain-lainnya.

terdapat tiga pendapat dari ulama dalam hukum aqiqah yaitu ada yang berpendapat wajib, sunnah mu’akkad dan juga sunnah. Menurut mazhab Syafi’i sendiri melaksanakan aqiqah hukumnya sunnah (mustahab) yang artinya apabila mampu.

Hukum aqiqah menurut pendapat yang paling kuat yakni sunah muakkadah, dan ini adalah pendapat jumhur ulama menurut hadits. Kemudian ada ulama yang menjelaskan bahwa aqiqah sebagai penebus. Artinya aqiqah itu akan menjadikan terlepasnya kekangan jin yang mengiringi semua bayi sejak lahir.

Demikian beberapa point yang bisa saya sampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua, bagi anda yang sedang mencari jasa aqiqah terpecaya, maka anda bisa menghubungi kami di nomer bawah ini. untuk melihat list harga, anda bisa mengunjungi website kami.

Tlp/wa : 0821-1979-9909

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.