Hukum Qurban Untuk Orang Tua yang Telah Meninggal

Hukum Qurban Untuk Orang Tua yang Telah Meninggal –Pada asalnya, qurban disyari’atkan bagi orang yang masih hidup, sebagaimana Rasulullah dan para shahabat sudah memotong qurban untuk dirinya dan keluarganya. Adapun persangkaan orang awam adanya kekhususan qurban untuk orang yang sudah meninggal, maka hal itu tidak ada dasarnya.

Qurban untuk orang tua yang sudah meninggal

hukum qurban bagi orang tua yang telah meninggal

Berqurban untuk dirinya dan ahli baitnya

Memotong qurban bagi orang yang sudah meninggal, , namun yang masih hidup disertakan. Contohnya, seorang memotong seekor qurban untuk dirinya dan ahli baitnya, baik yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia.

Demikian ini boleh, dengan dasar sembelihan qurban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dirinya dan ahli baitnya, dan diantara mereka ada yang sudah meninggal sebelumnya. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang berbunyi.

Dalil memotong qurban bagi orang yang meninggal

“Artinya : Aku menyaksikan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Id Al-Adha di musholla (tanah lapang). Ketika selesai khutbahnya, beliau turun dari mimbarnya. Kemudian dibawakan seekor kambing dan Rasulullah memotongnya dengan tangannya langsung dan berkata : “Bismillah wa Allahu Akbar hadza anni wa amman lam yudhahi min ummati” (Bismillah Allahu Akbar, ini dariku dan dari umatku yang belum memotong) [1]. Ini meliputi yang masih hidup atau sudah mati dari umatnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Diperbolehkan memotong qurban seekor kambing bagi ahli bait, isteri-isterinya, anak-anaknya dan orang yang bersama mereka, sebagaimana dilakukan para sahabat” [2] Dasarnya ialah hadits Aisyah, beliau berkata.

“Artinya : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta seekor domba bertanduk, Kemudian dibawakan untuk disembelih sebagai qurban. Kemudian beliau berkata kepadanya (Aisyah), “Wahai , Aisyah, bawakan pisau”, kemudian beliau berkata : “Tajamkanlah (asahlah) dengan batu”. Kemudian ia melakukannya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabil pisau tersebut dan mengambil domba, Kemudian menidurkannya dan memotongnya dengan mengatakan : “Bismillah, wahai Allah! Terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad”, kemudian memotongnya” [Riwayat Muslim]

Sehingga seorang yang memotong qurban seekor domba atau kambing untuk dirinya dan ahli baitnya, maka pahalanya dapat diperoleh juga oleh ahli bait yang dia niatkan tersebut, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Jika tidak berniat baik secara khusus atau umum, maka masuk dalam ahli bait semua yang termaktub dalam ahli bait tersebut, baik secara adat mupun bahasa.

Ahli bait dalam istilah adat, yakni seluruh orang yang di bawah naungannya, baik isteri, anak-anak atau kerabat. Adapun menurut bahasa, yakni seluruh kerabat dan anak turunan kakeknya, serta anak keturunan kakek bapaknya.

Berqurban karena wasiat

Memotong qurban untuk orang yang sudah meninggal, disebabkan tuntunan wasiat yang disampaikannya. Jika demikian, maka wajib dilaksanakan sebagai wujud dari pengamalan firman Allah.

فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Artinya : Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu sesudah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” [Al-Baqarah : 181]

Dr Abdullah Ath-Thayaar berkata : “Adapun qurban bagi mayit yang adalah wasiat darinya, maka ini wajib dilaksanakan walaupun ia (yang diwasiati) belum memotong qurban bagi dirinya sendiri, sebab perintah menunaikan wasiat” [3]

Berqurban karena shadaqoh

Memotong qurban bagi orang yang sudah meninggal sebagai shadaqah terpisah dari yang hidup (bukan wasiat dan tidak ikut yang hidup) maka inipun dibolehkan.

Para ulama Hambaliyah (yang mengikuti madzhab Imam Ahmad) menguatkan bahwa pahalanya sampai ke mayit dan bermanfaat baginya dengan menganalogikannya kepada shadaqah. Ibnu Taimiyyah berkata : “Diperbolehkan memotong qurban bagi orang yang sudah meninggal sebagaimana diperolehkan haji dan shadaqah untuk orang yang sudah meninggal. memotongnya di rumah dan tidak disembelih hewan qurban dan yang lainnya di kuburan” [4]

Akan tetapi, kami tidak memandang benarnya pengkhususan qurban untuk orang yang sudah meninggal sebagai sunnah, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi was al sallam tidak pernah mengkhususkan memotong untuk seorang yang sudah meninggal. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memotong qurban untuk Hamzah, pamannya, padahal Hamzah adalah kerabatnya yang paling dekat dan dicintainya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pula memotong qurban untuk anak-anaknya yang meninggal dimasa hidup beliau, yakni tiga wanita yang sudah bersuami dan tiga putra yang masih kecil. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak memotong qurban untuk istrinya, Khadijah, padahal ia adalah istri tercintanya. Demikian juga, tidak ada berita jika para sahabat memotong qurban bagi salah seorang yang sudah meninggal.

Jual Kambing Aqiqah

hukum qurban bagi orang yang telah meninggal

Bagi anda semua yang saat ini sedang ingin berqurban dan kesulitan dalam mencari kambing untuk qurban maka anda tidak perlu khawatir lagi, karena saat ini sudah ada AkikahKita yang juga menyediakan kambing untuk qurban. Karena kami memiliki peternakan kambing sendiri, yang mana kami rawat dengan baik dan tidak ada kecacatan serta penyakit yang menyerangnya. Untuk pemesanan kambing anda bisa menghubungi nomer kami di bawah ini.

Whatsapp 0821-1979-9909

Semoga niat anda untuk berqurban berubah menjadi pahala. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.